Buka Cabang, Hobi Baru Penuh Cuan, Bos RM Minang Indah & Embun Pagi Raya

Buka Cabang, Hobi Baru Penuh Cuan, Bos RM Minang Indah & Embun Pagi Raya
Bos RM Minang Indah Grup dan RM Embun Pagi Raya yang juga Kabid Pengembangan Usaha Perkumpulan PBL Lampung, Wakil Bendahara DPP Apindo Lampung, Junaedi, bersama istri, karyawan, saat pembukaan cabang ke-15 RM Minang Indah, Jl Urip Sumoharjo Way Halim Bandarlampung, 29 Agustus 2022. | dok. RM MI/Muzzamil
PROFIL & SOSOK

BANDARLAMPUNG, (LV)
Tancap gas buktikan ‘lelah berbuah Lillah’ itu niscaya, seiring landai pandemi ditambah pertumbuhan ekonomi Lampung pesat melesat ditopang belanja pemerintah, membaiknya daya beli konsumen, terjaganya serapan permintaan kebutuhan konsumsi makanan siap santap pasar kuliner terutama kuliner Nusantara, serta bonus rajin sedekah, menjadikan karir pebisnis kuliner pewirausaha sosial (sosio-culinarypreneur) satu ini terus kian moncer.

Pada akhir bulan kemerdekaan, Agustus ini terkonfirmasi, perantau kelahiran Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, Desember 1975 ini kembali mempermaklumkan pada khalayak ramai, pembukaan operasional cabang baru unit bisnis kuliner moncernya itu.

Meski sama sekali bukan penyuka D’Masiv, spirit salah satu karya religiusnya, Jangan Menyerah, bak lingkupi nyala nyali petarung bisnis yang terus menyita kesehariannya dengan curah penuh perhatian khusus upaya ekspansi bisnis kuliner yang dirintis sejak dia beranikan diri buka usaha sendiri medio 20 Februari 2009, 13 warsa silam.

Hingga, seperti pernah diakui, meski kelangsungan bisnisnya sempat tersengal digebuk pagebluk mula pandemi hadir merangsek Tanah Air, dia dan keluarga, mitra bisnis –rekan franchise maupun rantai pasok bahan baku, 150-an mitra karyawan yang gantungkan penghidupan dan jadi tanggungannya, semua sempat ketar-ketir.

Belum lagi sengat bumbu ragam spekulasi keberlangsungan bisnisnya ini bakal ikut tergulung terdegradasi, tak ingin berlama-lama dia openi, easy going laju berbenah, prioritaskan efisiensi hingga bisa survive, sampai akhirnya tiba dia bukukan rekor baru, terhitung per Senin (29/8/2022) lalu.

Sebagai, pemilik 20 cabang eksisting dua jenama rumah makan (RM) menu masakan Padang milik sendiri maupun waralaba berpola bagi hasil syariah, diluar 2 cabang dan 1 cabang varian mula sementara lantas permanen tutup operasional, yang tersebar di Kota Bandarlampung dan dua kabupaten, Lampung Selatan, dan terakhir Pesawaran.

Sigap berderap, usai 2009 dia buka cabang (eksisting) pertamanya di Jl Raya Batupuru, Desa Merak Batin, lalu disusul runut sesuai waktu berdirinya, cabang kedua di Jl Raya Merak Batin, Desa Muara Putih (samping RS Natar Medika), dan cabang ketiga Jl Raden Gunawan (dekat BLPP Hajimena), ketiganya di Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Lalu, cabang ke-4 Jl Pramuka, Rajabasa (depan SMPN 2 Bandarlampung), kelima Jl Cik Ditiro (depan U-turn jalur dua seberang Push Pin) Kemiling, ke-6 di Jl Pagar Alam (simpang traffic light Gang PU) Kedaton. Cabang ke-7, Jl Yos Sudarso 83, Kunyit (depan Jatayo) Telukbetung Selatan dan ke-8 di Jl Untung Suropati, Labuhanratu.

Cabang ke-9, Jl H Agus Salim, Kelapa Tiga, Tanjungkarang Barat, hasil kongsi sistem franchise dengan rekannya, Ajie Munawwar, pengusaha keagenan perjalanan wisata, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Lampung, yang juga pebisnis alkes pemilik Apotik Alifa lokasi seberang RM, persis kiri traffic light simpang Agus Salim.

Senada, cabang ke-10, Jl Pagar Alam (Gang PU) Kedaton, seberang parkir belakang Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) dekat Masjid Al Hikmah, kongsi bisnisnya dengan Dr Ahmad Junaidi Auly, politisi PKS anggota DPR/MPR dapil Lampung II.

Cabang ke-11, mulai beroperasi 15 Juli 2020, Jl Gajah Mada 49, Kotabaru, Tanjungkarang Timur. Cabang ke-12, beroperasi 4 Maret 2021, Jl Zainal Abidin Pagar Alam seberang kampus Umitra Indonesia, Gedong Meneng.

Lalu cabang ke-13, seperti yang pernah dia bocorkan pada 28 November 2020, bagian jibaku kerasnya: lokasinya lokasi incaran, tepi jalan nasional Jl Lintas Sumatera, Desa Candimas, antara dua RM tenar, sekitar 1 km sebelum Bandara Internasional Raden Inten II Natar.

“Candimas. Lumayan panjang 16 (meter) lebar ke belakang 26 meter. Tanah sendiri. Doain ya,” pesan singkat dia, Sabtu malam 28 November 2020 lalu itu. Yang tahu-tahu jadi, telah buka ini. Juli 2021, saat progres fisik pembangunannya masuk 90 persen, dia bocorkan, lahan, gedung, milik sendiri.

Dan cabang ke-14, beroperasi 15 Juli 2021 ditengah cekam terkam COVID-19 varian Delta, cabang kongsian, di Jl Ahmad Yani, Desa Sukaraja, Gedongtataan, seberang Islamic Center Kabupaten Pesawaran.

Serta terbaru, cabang ke-15 beroperasi per 29 Agustus 2022 ini, Jl Urip Sumoharjo (300 meter kiri jalan sebelum Jl Soekarno-Hatta By Pass), Way Halim, Bandarlampung.

Itulah ke-15 cabang RM Minang Indah Grup, jenama pertama RM milik warga Desa Bumi Sari, Natar, Lampung Selatan, yang juga kampung asal istrinya yang telah beri dia dua buah hati, Lintang Aulia Nurmala Putri dan Zulfikri Abdul Qodir itu.

Diluar dua cabang, satu milik sendiri di Jl Ratu Dibalau 152-154 Waykandis, Tanjung Senang, tutup lantaran sepi ganti jadi RM Bakso Solo Sido Mampir per 15 September 2020 nun tetap sepi, dan satu cabang hasil akuisisi di Jl Soekarno-Hatta 109 (By Pass) Rajabasa sisi kantor HU Lampung Post, beroperasi 10 Juni 2020 tutup sama sepi.

Dan satu cabang, yang sejurus dia ganti jadi Warung Bakso Abi Giri, di kompleks Baitul Jannah Islamic School, Jl Pramuka Raya 43, Kemiling Permai Kecamatan Kemiling, hasil kongsi dengan Sugirianto, pemilik sekolah, bertahan terbilang bulan, buka tahun lalu.

Baca Juga:  Gelorakan #ingatpesanibu, Tuan Rumah Cawo Ekam: "Dang Lopo Tiyengkon Cawo Pemerintah"

Semula, seperti pernah coba dia pastikan, menjawab redaksi saat disua kala rehat di cabang Cik Ditiro, 29 November 2020 silam, sesuai rencana Sugirianto, sahabatnya yang kebetulan Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Bandarlampung, bakal dibuka bareng gerai Wakaf Mart sisi lokasi, namun urung.

Dan, masih ada lagi, 5 cabang RM Embun Pagi Raya, kesemuanya tersebar di titik dalam kota, dua terakhir di Jl Cik Ditiro Kemiling, satu di seberang toko batik Tapis Lampung Gabivora, satu lagi persis di ujung Fly Over Kemiling sebelum Sate Utami.

Gagah berani arungi, tanpa bermaksud jumawa acung palu, ditilik pintas lalu, efek berantai sosial ekonomi imbas pandemi COVID-19 yang menyerbu Indonesia saat ditemukenali kasus positif terkonfirmasi pertama pada 2 Maret 2020, menyeruak Lampung saat ditemukenali serupa pada 14 Maret 2020 silam, bagi founder/CEO RM Minang Indah Grup dan RM Embun Pagi Raya ini seperti tak berlaku.

Sekadar bukti, pada saat sejawat lainnya menggelepar tepar terpapar imbas kahar empat bulan pertama Maret-Juli 2020, dia justru mantap berderap, kepakkan sayap, kekeuh pada strategi fokus bertahan, fokus jurus layanan purnajual, relasi sosial organik ke pelanggan, sembari terus berekspansi.

Kepaknya menghujam, saat efek bola salju krisis ekonomi imbas krisis kesehatan kian mengganas, bahkan hingga saat pandemi terafirmasi melanda 223 negara terjangkit, hantui 7,9 miliar penduduk planet Bumi.

Naluri petarung bisnisnya –merintis karir dari nol mulai sejak diterima bekerja di RM bilangan Pluit, Jakarta Utara tahun 1991 yang hingga kini petuah emas pemiliknya dia jadikan basis pijakan motorik, hingga tiba pertama kali injakkan kaki di Lampung 1998 silam, bergonta-ganti majikan rumah makan hingga ambil langkah berani buka usaha sendiri 2009–, terasah uji.

Motivasi bijak “hasil tidak akan menghianati usaha”, muaranya cocok disematkan pada si sederhana, bersahaja, humoris, serta berjiwa sosial tinggi ini. Diluar itu, bekal pengalaman pribadi taklukkan cadasnya tantangan hidup, selami seluk-beluk dunia bisnis restoran Padang sejak zaman bujang, turut menempa, membentuknya jadi pribadi pengusaha tahan mental, tahan uji tahan banting, bermental kaya, juga matang.

Pengalaman, guru paling berharga.

Jauh sebelum artikel ini tiba di ruang digital anda, pada dua tahun lalu redaksi pernah kurang lebih tujuh bulanan “memelototi” dinamika jibaku pehobi sepak bola ini dari soal perencanaan bisnis, strategi ekspansi, hingga proses kreatifnya –pemastian data dan informasi, diseminasi, surveilans, teknik lobi dan eksekusi– dalam membidik target lokasi usaha. Alhasil, beroleh ilmu gratis.

Berkebetulan, redaksi berkesempatan membersamai kiprah dia yang di tengah kepadatan kesibukannya, aktif berjibaku dalam sejumlah taja agenda solidaritas kemanusiaan merespons imbas ekonomi gegara pandemi, yang dihelat salah satu organisasi sosial kemasyarakatan (ormas), Pejuang Bravo Lima (PBL).

Usai bergabung Desember 2019 dia lantas didapuk sebagai Wakil Ketua Bidang Sosial Politik DPD PBL Lampung 2020-2025, mendampingi ketuanya Ary Meizari Alfian, wakil ketua Yanuar Irawan, dan sekretaris Reza Berawi, serta bendahara Miswan Rodi.

Lama tertunda gegara pagebluk, seiring pemantapan personalia kepengurusan hingga resmi turut dilantik pada 11 Agustus 2020 oleh Ketua Umum DPP PBL Jenderal Purn Fachrul Razi yang saat itu Menteri Agama, geser posisi, dia dipercaya jadi ketua bidang pengembangan usaha.

Bicara dedikasi, redaksi pun geleng kepala. Dia paten mengaktualisasikannya. Alamiah bukan pencitraan, alih-alih cari muka. Integritasnya, boleh juga.

Info pengingat, selaku penanggung jawab program Ramadan Peduli Ramadan Berbagi 1441 H/2020 DPD PBL Lampung, bersama lembaga jejaring, Yayasan Alfian Husin pimpinan ekonom cum filantrop Dr Andi Desfiandi, IIB Darmajaya pimpinan rektor Dr Firmansyah Yunialfi Alfian, dan RSIA Belleza Bandarlampung pimpinan dr Lyza, Junaedi tunai mandat dan ‘berkeringat’ memimpin helat donasi harian paket nasi kotak menu buka puasa racikan dapur Minang Indah, dan donasi mingguan paket sembako sumbangsih keroyokan, 25 hari tanpa jeda, selama Ramadan 1441 H, April-Mei 2020.

“Menjemput ridha Allah,” sahut singkat dia, tersengal menahan berat empat kantong paket sembako di dua tangannya, sambil menyusuri jalan setapak permukiman warga duafa RT 15 Kelurahan Bumi Kedamaian, Kecamatan Kedamaian, Bandarlampung, pada H19 Ramadan, 12 Mei 2020.

Kala itu terik sangat. Redaksi turut tercekat. Topi pet kenaannya, tak bisa menutupi curah letih wajah dia –juga relawan PBL lainnya, yang sigap distribusikan bantuan, penuh semangat. Ketua DPD PBL Lampung Ary Meizari pun membersamai, bercucur keringat, turut berada di lokasi.

Mengaku beroleh pengalaman spiritual dahsyat, dalam beberapa kesempatan ngobrol ringan, kepada redaksi, penggemar Real Madrid dan Arema Malang ini tak bisa sembunyi syukur. Terpantau doyan sedekah, ia juga rajin shalat. Ogah kufur nikmat.

Awal pekan ketiga Mei 2020, lanjut Selasa (21/7/2020) petang, dua waktu terlama berburu kisah cerita kehidupan, perjuangan hidup anak desa berperawakan mungil, yang sama sekali bukan pengenyam sekolah tinggi ini. Cuma tamatan SMP negeri! Dia lulusan SMPN 1 Wangon, di Jl Raya Utara 106, Mejingklak, Desa Wangon, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tahun 1991.

Baca Juga:  Kabar Baik Bagi Perusahaan & UMKM, Ikuti Apindo Lampung Award: Best Pandemic Resilience Business 2021

Di tahun yang jua tahun resmi, pertama kali McDonald’s masuk Indonesia itu, dia yang hampir genap 16 tahun, buat keputusan berani. Usai lulus. Berbalut doa keluarga, berbulat hati. Tak mau buat susah orang tua. Merubah nasib, merantau ke ibu kota.

“Iya, merantau ke Jakarta. Iya anak desa ya, gak sekolah lagi merantau ke Jakarta. Sampai saat ini, masih seperti itu pola pikirnya anak desaku,” ujar dia mengenang tren masa sebaya.

Muhibah ke ibu kota, dia langsung diterima bekerja di RM Putra Minang, Pluit, Jakarta Utara. Disini dia belajar. Semua, A-Z bisnis RM tekun dia pelajari. “Dari gak bisa apa-apa, sampai bisa apa-apa. Empat tahun di situ,” tutur dia.

Dicek di aplikasi peta digital, RM di Jl Pluit Selatan Nomor 22 RT 01 RW 09, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara itu sekarang masih ada.

Keputusan berani dia merantau, hapus asa melanjut sekolah, tak seperti kebanyakan sebayanya yang mesti sekolah demi masa depan, dia remaja rela kehilangan indah masa SMA. Jadilah dia, “sekolah” di Minang Putra, belajar hebat menyambung hidup, berkeringat pompa semangat. Hingga 1995.

Menginjak usia 20, dia pamit pindah kerja ke RM Citra Minang, Jl Peta Selatan, seputar Citra Garden City 1 Kalideres, Jakarta Barat. Juga empat tahun, dari 1995 hingga 1998. Di Petsel, nama tenar jalan yang tembus arah Rawa Bokor, Benda, Tangerang Banten itu, dia bekerja pada salah satu bekas sesama rekan kerjanya saat di Pluit, karyawan lama, lebih dulu berhenti kerja, coba peruntungan baru buka rumah makan sendiri, Kang Ayi.

Dipaksa mengingat balik, dia akhirnya ingat, RM itu kini tak ada lagi. “Kang Ayi senior, dah buka duluan baru aku ikut kerja. Kang Ayi orang Cianjur. Tapi dulu ada panggilan ngajar kayaknya, pulang kampung jadi guru,” dia tetiba hapal usai dipaksa, saat dikonfirmasi Rabu siang, 22 Juli 2020.

Sampai sini, dia merasakan masa sulit. Tak begitu rinci, bagaimana ceritanya hingga dia mesti temui kenyataan pahit. Sebulan nganggur, dia terlilit, dia “tegambuy”.

Derita batin ini bak meluluhkan Tuhan, menggiringnya melenggang ke tanah Sumatera, pulau seberang. “Intervensi” Allah Yang Maha Kuasa, hadir lewat kakak sepupunya –saat itu chef resto seafood, di Bumi Waras, Telukbetung, Bandarlampung.

“Saya satu bulan nganggur cari kerja sana-sini. Akhirnya dapet di RM Danau Di Ateh, By Pass. Dua bulan,” lanjutnya, terselamatkan sepupu, sang perantara.

Turut dicek, RM tepi Jl Soekarno-Hatta Waydadi, Sukarame, Bandarlampung itu sepertinya juga tak lagi beroperasi.

Adapun sepupunya, menikah dengan warga Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, kini balik menetap di Wangon, Banyumas. “Tapi si kakak lagi merintis buka usaha pecel lele di (Bhumi Marinir Pangkalan TNI Angkatan Laut) Piabung sama sodara juga yang (jadi prajurit AL,” jelasnya.

Pertama kali injakkan kaki di Lampung? Apa Suka dukanya? “Ya saya masuk Lampung, 1998. Final Piala Dunia Prancis vs Brasil saya dah di Lampung A’ (dari bahasa Sunda Aa’, sapaan khas bagi kakak laki-laki, red),” dia menanda. Merujuk ini, persis Juli.

Olah data, debut final Piala Dunia FIFA 1998 berlangsung 12 Juli 1998 (atau 13 Juli 1998 pukul dua dini hari WIB), di Stade de France, Saint-Denis, Prancis. Tuan rumah dikapteni Zinedine Zidane (terpilih pemain terbaik), juara 1, tekuk petahana PD 1994, Brasil, 3-0.

Penggila bola, bisa jadi dia termasuk yang rela begadang lalap habis tontonan live jutaan pemirsa tivi sejagat, saat itu.

Dari Danau Di Ateh, perdana mengenal Lampung, dia lalu pindah ke RM Antika, Natar. Kala setahun dua bulan kerja di sinilah, kurun 1998-1999, dia yang jejaka bersua jodoh. Siapa beruntung?

Asih Liawati namanyi. Dia jatuh hati pada warga Bumisari, Natar, bekas pacar yang kelak dia peristri. “Disini ketemu calon istri. Dari Antika pindah ke RM Danau Kembar, nikah sampai punya anak satu,” imbuhnya.

Memberi gambaran sosok istri yang dinikahi dia 31 Agustus 2003 ini, dia terkesan atas totalitas bakti soulmate, bestie-nya itu –bungsu di keluarganyi, mengurus hingga wafat ibu kandung, yang juga mertuanya.

Bicara Danau Kembar, bagi warga kota penyuka masakan Padang, atau warga pelintas transit Jalinsum ke arah Sumatera Selatan dan seterusnya, ini RM legendaris.

Yang masih ingat, letaknya strategis, di Bundaran Rajabasa, pinggir pertemuan Jl ZA Pagar Alam, dan Jalan Lintas Tengah, sepelemparan batu dari Pos Polantas Rajabasa, Bandarlampung.

Danau Kembar kini tak ada lagi. Jejaknya lenyap berganti rupa, tidak dengan kelebat ilmunya. Dan tokoh kita suami Asih Liawati, yang telah jadi ayah, 5 tahun lebih kerja disana, akhir 1999 hingga 2005.

Baca Juga:  Eva Dwiana, Wiyadi dan Budhie Condrowati: Selamat, Profesor Kehormatan Megawati

Lanjut setahun kerja ke RM Dina Natar, sekarang jadi RM Gambreng depan Chandra Superstore Natar, pada 2005.

Fase transisi karir dia, dari pelayan hingga jadi pengelola restoran sebelum memuncak naik kelas, berlangsung pada 2006-2008.

“Sempat kelola juga di Bumisari. RM Kejora Indah (kini Fajar Hikmah). Iya lumayan lama juga. Belum (punya sendiri), kelola aja punya orang tapi tanggung jawab full,” putar ulang memori tempat kerja, sekaligus kembaraan terakhirnya kala itu.

Sebelum, tiba saatnya dengan seizin Tuhan, dia mengeksekusi ketetapan hati. Berani keluar dari zona nyaman.

Usai 15 tahun kenyang bekerja, dia ambil keputusan berani satu lagi. Mantap hati, berhenti bekerja –ikut orang, selangkah maju meniatkan diri buka usaha sendiri. Baginya, kenyang perut tak linear dengan akal nakal memijar. Dari itu dahaga ilmu, dia tak pernah kenyang belajar.

Bagaimana proses kreatif pejuang keluarga ini, berkeputusan berani untuk kedua kali dalam sejarah perjuangan hidup dan lelaku bisnisnya hingga mampu kibarkan panji sendiri: berdikari? Dari mana muasal nama RM yang kini jadi sumber penghidupan, sekaligus kebanggaan diri, keluarga, mitra karyawan dan mitra bisnis, kolega, bahkan para pelanggannya?

Bidik kalender, Jum’at 20 Februari 2009 itu, hari bersejarah dia. Kali pertama RM Minang Indah dibuka, di Jl Raya Batupuru, Merak Batin, Natar, Lampung Selatan. Kini, cabang pertama. “Awal berdiri MI (Minang Indah, red) 20 Februari 2009. Berarti usiaku (saat itu) memasuki 34 tahun,” pesan singkatnya, pukul 22.25 WIB, Kamis 21 Mei 2020.

Dari mana datangnya ide nama Minang Indah? Kapan persisnya? Kenapa pilih Batupuru lokasi pertama? Diberondong demikian, dia enggan lekang ingatan. “Ya, Minang, karena masakan Padang. Indah, elok aja. Bagus, gitu. Dulu ada dua nama. Selain Minang Indah, pilihannya Goyang Lidah,” dia kuak muasal.

Lantas? “Pada akhirnya saya pilih nama Minang Indah,” putar kenangan, tak sadar nama itu kelak hoki karirnya.

Dapat nama itu? “Ya, sebelum buka itu. Kan sambil kerja, saya ngecak (kata gaul [slang] dari mengira-ngira, red) sambil cari-cari nama gitu. Begitu buka sih langsung nama MI,” dia tercecar. Tahun? “2000an kayaknya A’. Masih di Bundaran (Rajabasa, di RM Danau Kembar, red) dulu itu,” imbuh dia.

Memperjelas, dia merujuk rentang 5 tahun lebih saat masih bekerja di Danau Kembar, akhir 1999 hingga 2005. Saat dia telah alih status jadi suami dan ayah satu anak.

Dia mengungkap dua tahun menanti masa buka usaha pertama plus incar calon lokasi. “Dulu naik angkot dari Natar, sepanjang jalan sambil lihat-lihat, ya akhirnya dapet yang di Batupuru itu A’,” imbuh dia gayeng.

“Dulu sepertiganya, kecil cuman lebar empat meter sekarang kan ketemunya tiga plong lebar 12 meteran,” detail bandingnya, kondisi dulu dan kini RM yang tak sedikitpun dia duga bakal jadi cabang pertamanya itu.

Dipuji tajam ingatan, dia mendadak ‘melow’. “Siyapp.. Karena indah A’. Jadi inget semua. Berakit-rakit ke hulu,” kesannya dalam, tanpa melanjutkan bunyi pepatah sakti itu.

“Saya kerja sama orang Padang 15 tahunan A’.., sampai 2009 yang buka pertama di Batupuru itu.”

Dicecar lagi kenapa Batupuru, ada sejarah tersendiri? “Ya kan, saban hari lewat situ A’. Rumahku di Bumisari. Sering ngetem angkot yang saya naikin di depan RM Minang lndah Batupuru,” ulas latar pemilihan lokasinya.

Pengampu moto “berbuat baik, maka kebaikan akan kembali padanya”, dan juga, “gunakan ilmu yang kita punyai semaksimal mungkin” ini tak pelit jua berbagi kesan. Kesan before and after, dia bagikan.

Sebuah nasihat bijak bekas majikannya saat di Pluit, Jakarta Utara, menjadi yang paling berkesan selama belum buka usaha sendiri, pun begitu membekas hingga kini baginya.

“Ingat petuah bos pertama kerja dulu di Jakarta. Kejar untuk sukses kita, sebelum usia memasuki angka 50 tahun,” ungkapnya mengutip sang bos, lupa ditanya namanya.

Petuah emas yang dari penjuru keterangan dia, turut membentuk ketangguhan mental kaya-nya, dan resiliensi bisnis suksesnya.

Termotivasi, dia himpun amunisi. “Jadi selama kerja, yang dipikirkan kapan bisa mandiri atau buka usaha sendiri. Pas shift malam, isi waktu senggangku dengan coretan, ngecak 1 kilo beras jadi sekian bungkus per porsi. Pun daging, sekilo daging jadi sekian potong dan lain-lain,” tutur dia.

Apesnya, pertanyaan hal apa yang paling berkesan sesudah bisa buka usaha sendiri, urung dia jawab. Namun pada bagian lain, disinggung kiat mempertahankan lini bisnis usahanya selama pandemi berlangsung, dia serta-merta menyahut, diskon!

“Kiatnya, kasih diskon untuk pemesanan banyak. Salah satunya untuk baksos di Bravo Lima. Lainnya ya standar, dan sudah menjadi moto Minang Indah. Jaga kualitas masakan, jaga kebersihan rumah makan, dan jaga kualitas pelayanan,” sambar dia, menyebut tiga jaga, medio 21 Mei 2020 itu.

Penasaran. Siapa sih “dia” ini? Bersambung. [red/Muzzamil]

 201 kali dilihat