Dian Sastro: 7-11 September ke Borobudur, Kita Hadiri Festival Indonesia Bertutur Yuk!

Dian Sastro: 7-11 September ke Borobudur, Kita Hadiri Festival Indonesia Bertutur Yuk!
PROFIL & SOSOK

BANDARLAMPUNG, (LV) Pendebut karir juara GADIS Sampul 1996, film pertamanya indie cuma edar di kampus, Bintang Jatuh karya Rudi Sujarwo (2000), hebohkan jagat atas totalitas aktingnyi di Pasir Berbisik bareng Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Didi Petet (2001) diganjar Aktris Terbaik Festival Film Internasional Singapura dan Festival Film Asia di Deauville Prancis (2002) Dian Sastro, berbagi info gelaran festival budaya yang akan dihelat di salah satu tempat masyhur. Di Magelang, Jawa Tengah.

"Tahun ini, sebuah festival budaya penting segera digelar di kawasan Percandian Borobudur. Festival Indonesia Bertutur 2022 hadir pada 7-11 September 2022," ujar Dian, pemeran Cinta di Ada Apa Dengan Cinta (AADC) tahun 2002 dan sekuelnya AADC 2 tahun 2016, via media sosialnyi, pada Senin (5/9/2022), disitat dari Bandarlampung.

Dian menjelaskan tema festival, "Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan". Ini merupakan sebuah upaya untuk memajukan ekosistem budaya, sekaligus menjaga budaya berkelanjutan dan cagar budaya sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Kelahiran Jakarta 16 Maret 1982, penama lahir Diandra Paramitha Sastrowardoyo ini mengajak kita. "Yuk datang dan saksikan, para seniman Indonesia dan internasional, akan berbagi pengalaman baru lewat karya dan pertunjukan yang terinspirasi dari 20 cagar budaya Nusantara dan dituturkan kembali dengan eksplorasi teknologi dan media baru," ajak Dian.

Ada performansi apa saja disana, "Cinta?" "Akan ada video mapping dan instalasi cahaya (Kiranamaya), festival film tari (Layarambha), seni pertunjukan kontemporer (Anarta), pameran seni expanded media (Visaraloka), dan panggung pertunjukan di waktu senja (Virama)," beber Dian, mengimbukan hadirin festival juga bisa nikmati berbagai suguhan kuliner menarik dari para pelaku UMKM.

Dari poster digital festival yang ia bagikan, Festival Indonesia Bertutur (INTUR) 2022 ini bakal diisi performansi Teater Garasi, Tulus, Mila Rosinta, Choy Ka Fai, Senyawa, Fitri Setyaningsih, Letto, Prehistoric Body Theater, 'The Fox, The Folks', Rampages Production x Toopfire, Ardhito Pramono, Woro Widowati, Paksi Band, The Finest Tree, Wijilan Kidz, Ayo Dongeng Indonesia, OM Waves, Tarian Relief Jataka, Kamila Andini, Gilles Delmas, Nao Yoshigai, Iin Ainar Waide, Johannes Markku Lehmuskallio, dan masih banyak lagi. "Gratis!" pungkas info tersebut.

Penasaran info Dian, dari hasil penelusuran, diketahui, festival ini merupakan taja resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, yang merancang festival, sebagai even dua tahunan agar dapat memfasilitasi pelaku budaya sekaligus memperluas akses publik atas warisan budaya yang dimiliki Indonesia.

Sebagai upaya memajukan ekosistem budaya, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid menyebutkan, dengan perkembangan teknologi terutama di bidang media, pihaknya ingin mendorong pemanfaatan teknologi agar publik memiliki akses semakin besar terhadap warisan budaya yang kita miliki. Sekaligus, agar dapat memanfaatkan warisan budaya tersebut sebagai sumber ilmu pengetahuan.

"Selain itu, kami berharap festival ini dapat memicu kreativitas para seniman, utamanya seniman muda, sehingga ekosistem kreasi konten di Indonesia semakin maju dan semakin banyak konten yang memperkenalkan budaya Indonesia," ujar Hilmar, menerangkan dari Jakarta.

Pantas saja, dari total partisipan, diketahui bakal melibatkan sekitar 900 pelaku budaya dan menampilkan lebih dari 100 karya. Pun, penyelenggaraannya juga terasa istimewa lantaran bersamaan momentum keketuaan, Presidensi Indonesia di G20. Jadilah, mata acara kegiatan G20 bidang kebudayaan.

Adapun perinci, 20 cagar budaya sebagai materi yang dipilih para pelaku budaya dalam karya mereka itu meliputi Sangiran, Liang Bua, Leang-Leang, Gugus Misool (Raja Ampat), Sangkulirang, Lore Lindu, Kutai, Tarumanegara, Kompleks Candi Dieng, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Prambanan, Candi Gunung Kawi, Muara Takus, Muaro Jambi, Candi Jago, Candi Singosari, Trowulan, dan Candi Bahal.

Menambahkan penjelasan Hilmar, Direktur Artistik Indonesia Bertutur 2022, Melati Suryodarmo menuturkan, Festival Indonesia Bertutur 2022 bertujuan untuk menawarkan keterbukaan cara berpikir dan bertindak, sekaligus mengutamakan pencapaian tujuan penciptaan karya seni yang ditujukan untuk kemaslahatan kehidupan masyarakat.

Ada lagi, Direktur Perfilman, Musik, dan Media (PMM), Ahmad Mahendra malah menjanjikan festival ini akan memberikan pengalaman berbeda bagi para penampil juga pengunjung. “Saya berharap Indonesia Bertutur bisa menjadi sumber edukasi, inspirasi dan pengalaman baru bagi masyarakat khususnya generasi muda untuk melihat bagaimana teknologi dan budaya tidak terpisahkan dan seharusnya berjalan beriringan dalam banyak ragam eksplorasi agar bisa tetap relevan dalam cara penyampaian sesuai perkembangan zaman,” tutur sang direktur.

Sementara itu, aktris Laura Basuki, yang didapuk sebagai ikon Indonesia Bertutur 2022, berterima kasih diberi kepercayaan, mengapresiasi festival karena dapat jadi ruang berkreasi pelaku budaya di Indonesia.

"Dengan begitu, akses publik terhadap cagar budaya dapat menambah rasa cinta terhadap kebudayaan itu sendiri. Saya berharap festival ini dapat berlangsung secara konsisten sehingga ikut membantu menjaga budaya berkelanjutan,” ujar Laura.

Pun kaya talenta sefrekuensi Dian Sastro, Laura Basuki yang merupakan pemeran utama terbaik film “Tiga Hati, Dua Dunia, Satu Cinta” pada Festival Film Indonesia (FFI) 2010 dan film Susi Susanti: Love All pada FFI 2020, dan baru-baru ini sabet penghargaan sebagai pemeran pembantu terbaik dalam film Before, Now and Then (Nana) pada Berlinale Film Festival 2022, dianggap tepat jadi wajah festival karena pencapaian didapat aktris berbakat ini.

Dedikasinya terhadap dunia peran dan kepeduliannya terhadap keberlanjutan budaya Indonesia menjadikan Laura dinilai sosok tepat jadi ikon Indonesia Bertutur.

Dan rupanya, lima tangkai yang dijelaskan oleh Dian Sastro di atas, merupakan lima program utama Indonesia Bertutur 2022.

Pertama, video mapping dan instalasi cahaya Kiranamaya. Ini bakal menampilkan beragam video mapping dan tatanan instalasi seni cahaya dari karya-karya seniman dalam dan luar negeri yang menggunakan teknologi pencahayaan, interaktif dan arsitektural. "Pengunjung akan mendapatkan pengalaman cahaya yang istimewa di Borobudur saat malam hari layaknya sebuah festival cahaya."

Kedua, festival film tari Layarambha. Ini bakal hadirkan berbagai film peran dan film pendek dari berbagai jenis film tari dan dari berbagai negara termasuk Indonesia.

Ketiga, seni pertunjukan kontemporer Anarta. Pengunjung dapat menyaksikan seni pertunjukan kontemporer dari beragam pertunjukan kontemporer bidang musik, tari dan teater khususnya yang lakukan proses eksperimen panjang dan menggunakan teknologi modern dalam karyanya.

Keempat, Expanded Media tajuk Visaraloka. Indonesia Bertutur menyediakan ekosistem bagi seniman multimedia dan interdisipliner yang menggunakan bermacam teknologi.

Program yang akan digelar di empat galeri seni sekitar Borobudur yaitu Museum Haji Widayat, Apel Watoe Contemporary Art Gallery, Eloporogo Art House, Limanjawi Art House ini bertujuan memberikan potensi kemungkinan kreatif penggunaan semua media dalam visi artistik yang inovatif.

Kelima, panggung pertunjukan di waktu senja, Virama. Saat menanti pertunjukan di panggung utama, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan musik, tari, dongeng, dan menikmati aneka hidangan yang dijual pelaku UMKM.

Untuk anda, Dian Sastro menitipkan info tiga akun Instagram even tematik ini. Yakni, @Indonesiabertutur, @budayasaya, dan @pusbangfilm. Oke "Cinta", eh Dian, saya follow! [red/Muzzamil]