IWD2022, Vidya La Versi Cita: Kesetaraan Gender Dapat Atasi Kemiskinan

NASIONAL

Bandar Lampung (LV) -- Hidup Perempuan! Hai seluruh kaum perempuan penyala dan tentunya kaum ibu di seluruh penjuru dunia, hari ini hari istimewa buat kalian. Genap jatuh hari ini, Selasa (8/3/2022), pantang ragu lantang berseru teriakkan salam hormat: Selamat Hari Perempuan Sedunia!

Hari Perempuan Sedunia, atau International Women's Day (IWD) 2022, tahun ini perayaannya masih bersua tahun ketiga pandemi COVID-19 yang tiada ampun meluluhlantakkan dua benteng ketahanan sekaligus: sistem kesehatan dan ekonomi, setidaknya 7,9 miliar jiwa manusia penghuni planet Bumi. 223 negara terdera.

#BreakTheBias, menjadi tema raya terpilih perayaan global prestasi sosial, ekonomi, politik, dan budaya perempuan di tahun ini.

Situs resmi IWD menguak, sadar tak sadar, "bias" notabene buat perempuan sulit untuk maju. Namun, sekadar berkesadaran saja dianggap masih belum cukup memadai.

Sebatas sadar saja, mengetahui adanya bias saja, tidak cukup. IWD menulis, perlu "tindakan yang signifikan" untuk mencapai kesetaraan. Dan "Break The Bias", disorong dengan apik pengharapan, agar perempuan sedunia, all women at all around the world, bebas dari bias, diskriminasi, dan stereotip!

Sudah barang tentu, dengan tidak lupakan, dengan tetap saling hargai, junjung tinggi tanda penghormatan atas nikmat berbeda satu sama lain, antar satu dengan yang lain. Kuat, kita berbeda.

Atau dalam sendi-sendi keindonesiaan kita, abadi dalam bunyi semboyan, Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetap satu jua.

Terkait tema, setiap orang bertanggung jawab atas tindakan diri sendiri setiap harinya. Sehingga, setiap pribadi dapat mematahkan bias yang ada di lingkungan sekitar, di komunitas, tempat kerja, sekolah, universitas, dimanapun orang itu berada.

Dari latar tersebut, IWD 2022 disebut jadi ajang yang cocok menerapkan hal itu. "Kampanye ini dapat dilaksanakan dengan membagikan gambar, video, foto, artikel Break The Bias di media sosial gunakan #IWD2022 dan #BreakTheBias," rilis IWD.

Seperti bisa disimak di laman resmi, bahkan segenap perempuan penyala dan kaum ibu Indonesia secara terbuka diundang ikut men-submit foto terbaik di laman tersebut, dengan pose foto dapat dilakukan dengan menyilangkan tangan untuk menunjukkan solidaritas.

By across your hands to show up your best solidarity, dengan melakukan kampanye ini, IWD pun membidang bilangan --membilang, setidaknya, kalian telah turut berkomitmen mewujudkan dunia yang adil. Dan, inklusif.

Sebagai hari penting --istimewa, agenda rutin tiap tarikh 8 Maret tahun Masehi ini, sepanjang perayaannya makin tahun, terus beroleh tempat terbaik tersendiri di kalender publik dunia, dan di hati mereka.

Didukung dan dihelat secara kolektif oleh lebih banyak entitas negara, kelompok sipil, organisasi manapun seantero dunia, makin kesini perayaannya bukan lagi dituju buat rayakan prestasi perempuan semata, juga demi peningkatan kesadaran kesetaraan, selain aksi karitatif atau filantropi global semisal penggalangan donasi kemanusiaan bagi badan amal dan asosiasi nirlaba terverifikasi lini fokus isu kaum perempuan.

Terhitung sejak lambang IWD diambil dari Women’s Social and Political Union (WSPU) tahun 1908 hingga 2022 ini, dengan tiga warna perlambang: ungu lambang martabat dan keadilan, hijau lambang harapan, dan putih itu suci, kisah perjuangan perempuan mewujudkan kesetaraan bukanlah milik satu kelompok feminis atau organisasi manapun.

"Tetapi, merupakan langkah kolektif semua orang yang peduli terhadap hak asasi manusia," ujar aktivis cum jurnalis, Gloria Steinem, dikutip laman IWD, disitat diakses dari Bandarlampung, pada Selasa.

Sehingga, IWD mengajak, jadilah bagian dari sebuah gerakan. "Siapapun dapat menjadikan International Women’s Day sebagai hari untuk lakukan tindakan yang berpengaruh dan membuat perbedaan positif bagi perempuan. Bersama-sama, semua orang dapat mematahkan bias-bias di International Women’s Day 2022 dan di hari-hari selanjutnya," gugah IWD.

Lantas, ditengah situasi dunia yang masih gamang musabab nyata situasi tak tertolak, situasi tak terelakkan volatility, uncertainity, complexity, ambiguity (VUCA) seiring arus deras disrupsi ekonomi konsekuensi logis Revolusi Industri 4.0 dengan segenap alat perangkat tempurnya, yang semakin pelik usai ditumbuk hadirnya pagebluk kini.

Situasi gamang dunia pascalanda COVID-19 resmi dinyatakan WHO sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020, menyusul di Indonesia ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai bencana nasional non alam, pada 13 Maret 2020.

Tiga tahun hingga, "betah" menghinggap, menyerang apalagi mereka yang pongah melalap egoisme antiprotokol kesehatan yang acap baru runtuh manakala telah sejenak terpasung ruang isolasi perawatan, pandemi ini sahih, terbesar dalam sejarah planet Bumi abad ini.

Secara revolusioner, ia merubah semua pranata, semua tatanan dunia. Pun dunia para puan --para perempuan dan kaum ibu.

Lolong tangis duka, mendapati --pada serangan gelombang pertama tahun pertama 2020 sejawat kampung sebelah harus kehilangan anggota keluarganya, berikut pada sergapan ganas gelombang kedua tahun kedua 2021 giliran tetangga sebelah rumah kita yang harus kehilangan sebab lambat tertolong akibat kelangkaan oksigen, berikutnya lebih beruntung pada kehadiran gelombang ketiga tahun ketiga awal 2022 ini tak sampai menyerang paru-paru terhenti di tenggorokan tetap saja namanya virus tetap saja limpungkan. Kita.

Hikmah besar dari kisah pandemi, kaum perempuan terutama kaum ibu pun dipaksa situasi bertransformasi menjadi manajer cegah kendali persebaran virus paling top di lingkup unit sosial terkecil, yakni keluarga.

Ingat tagar ingat lagu #ingatpesanibu, yang dipopulerkan band legendaris Tanah Air, pemilik lagu mahakarya Mahadewi dan Semua Tak Sama, Padi? Band ini juga satu dari bagian para pintar. Melalui lagu simpel mesin pengingat memori kolektif kita untuk sabar, sadar, karenanya taat asas patuh protokol kesehatan cegah kendali pandemi tersebut, darinya selamat kita berkegiatan di luar rumah berkat selalu ingat pesan ibu.

Pandemi juga beri insight berbeda, betapa perempuan berbekal tumbuh kembang potensi yang sama dengan kaum lelaki, memiliki kemampuan dan ketahanan kuat.

Akan tetapi, lelagi kerak menimbun warisan budaya patriarki yang masih saja secara sarkastik diklaim terkadang liar mewujud jadi --menjadi praktik "perbudakan modern" dalam bentuk lain, serta juga mindset para perempuan sendiri yang justru kerap jadi bottleneck, hambatan pengembangannya.

Terkait, pada tahun lalu, Forum Ekonomi Dunia (World Economy Forum/WEF) dalam laporannya Global Gender Gap Report 2021, memperkirakan kesetaraan gender secara global baru dapat tercapai dalam waktu 135 tahun kedepan. Alias, tahun 2157 Masehi. Estimasi Forum, meningkat 35 tahun dari perkiraan tahun lalu, 100 tahun.

Adapun, laporan itu menghitung penaikan grafik pencapaian kesetaraan gender ini berlandaskan empat faktor: partisipasi dan kesempatan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan juga pemberdayaan politik.

Data WEF, kesenjangan sisi pemberdayaan politik telah melebar cukup besar tahun lalu dibanding dengan laporan tahun 2020. Sisi lain, partisipasi ekonomi sedikit membaik.

Direktur Pelaksana WEF, Saadia Zahidi, pada eksposnya berharap laporan tersusun, "bisa menjadi panggilan bagi para pembuat kebijakan agar membuat kesetaraan gender sebagai tujuan utama dari kebijakan serta praktik yang mendukung proses pemulihan pascapandemi demi kepentingan ekonomi dan masyarakat global."

Apatah lagi, ujar penulis Fifty Million Rising (2018) ini, WEF memprediksi kesetaraan gender di bidang ekonomi baru akan bisa tercapai dalam waktu 267 tahun kedepan, atau di tahun 2289 Masehi.

Namun sayangnya, perkiraan 2021 lalu itu belum mengukur komprehensi dampak pandemi yang bisa jadi membuat situasi (semoga saja tidak) lebih buruk.

Saaida Zahidi, direktur asal Pakistan ini menguak, kemajuan untuk menciptakan kesetaraan gender, terhenti di beberapa ekonomi dan industri besar. Lantaran, sebagian perempuan lebih banyak bekerja di sektor-sektor yang terdampak pandemi lebih besar. Apalagi, sergah ia, perempuan jua alami tekanan lakukan pekerjaan rumah.

Disebutkan, walaupun ada pertumbuhan proporsi perempuan yang berada di lingkup profesional, WEF menilai bila kesenjangan pendapatan dan jumlah perempuan di tatar manajerial, masih menjadi masalah.

"Lebih banyak perempuan kehilangan pekerjaan di posisi yang lebih tinggi dibanding laki-laki selama masa pandemi," pengampu gelar Bachelor of Arts bidang Ekonomi, Smith College; MPhil Ekonomi Internasional Institut Pascasarjana Jenewa; MPA Universitas Harvard ini menandaskan.

Tak hanya itu, umumnya perempuan lebih lambat dapat pekerjaan kembali dibanding laki-laki bila perekonomian kembali pulih. "Ketika sekolah dan fasilitas lain tutup, perempuan memiliki peran lebih besar untuk merawat anak, melakukan pekerjaan rumah, hingga merawat orangtua mereka," imbuh ia menyebut itu dinilai oleh WEF turut meningkatkan stres, sekaligus mengurangi produktivitas perempuan.

Lain sisi, penerima penghargaan BBC 100 Women (2013 dan 2014); Financial Times/McKinsey perdana Bracken Bower Prize (2014); masuk daftar panjang untuk FT/Mckinsey Business Book of the Year (2018) ini menuturkan, pandemi COVID-19 yang mempercepat adopsi otomasi serta digitalisasi, secara determinan pun beri sebagian imbas negatif bagi perempuan.

"Perempuan kian tertekan karena sebagian besar dari pekerjaan mereka mulai terdisrupsi oleh komputasi awan juga kecerdasan buatan," sebut Saaida Zahidi.

"Perempuan tak cukup miliki representasi dalam peran-peran yang kini berkembang sangat pesat. Kaum Hawa memiliki masalah lebih besar dalam hal representasi gender seiring kebangkitan dari pandemi," simpul peniti karir sejak jadi ekonom (2003-2005); Ketua Program Kesetaraan Gender (2005-2008); Kepala Masyarakat Sipil (2008-2011); Kepala Inisiatif Ketenagakerjaan dan Gender (2013-2016); Kepala Dinas Pendidikan, Gender dan Pekerjaan (2016-2018); hingga kini Kepala Pusat Ekonomi dan Masyarakat Baru, dan Anggota Dewan Pengelola WEF ini.

Anne Suksma dari Perempuan Indonesia Satu, 2021 lalu melaporkan hasil survei United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia seputar kondisi riil kaum perempuan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) terdampak pandemi.

Di sektor usaha mikro, sebutnyi, perempuan mendominasi dengan mengelola usaha-usaha rumahan. Makin besar skala usaha, makin sedikit jumlah perempuan yang miliki usaha tersebut. "Ini membuat perempuan kesulitan mengakses permodalan untuk mengembangkan bisnis," tulis Anne.

Terlebih, kondisi pandemi ikut memengaruhi usaha kecil mereka cukup signifikan. Anne mengutip keterangan Rima Prama Artha, UNDP Indonesia Country Economist, kondisi itu karena perempuan tak jadikan bisnisnya sebagai yang utama, dan cuma sampingan sambil lakukan pekerjaan rumah.

"Jadi, motivasinya untuk mengembangkan usahanya tidak besar, motivasi untuk menjadikan bisnis lebih besar itu sulit," premis Rima. Terdengar paradoks, sisi lain ujar Rima, kaum perempuan pelaku UMKM disebut lebih memiliki daya tahan dalam pertahankan usahanya di masa pandemi.

"Namun sayangnya, justru mereka yang paling sedikit mendapatkan bantuan dari pemerintah. Selain juga akses permodalan minim, untuk usaha mikro yang didominasi perempuan," sesalnya, saat itu.

Survei merinci tiga dampak keuangan utama dirasakan pelaku UMKM, yakni kesulitan membayar utang, biaya tetap seperti sewa tempat, dan gaji karyawan.

Penyebab perempuan lebih berdaya tahan? Sebut Rima, karena mereka berhati-hati dalam pembayaran utang, serta lebih banyak menciptakan strategi pemasaran dan penjualan. Hasil survei Agustus 2020 kepada 1.100 pelaku UMKM di 15 provinsi di Indonesia, 60% asal Jawa 40% luar Jawa itu menyebut, perempuan pelaku usaha lebih mungkin untuk menyiapkan strategi penjualan dan pemasaran (85,1%) dibanding laki-laki pelaku usaha (79,7%).

Rima jua mengungkap hal yang buat masygul. "Perempuan pengusaha, lebih berdaya tahan dalam mengelola bisnis, tetapi justru lebih mungkin dirumahkan," tandas Rima, dikutip Anne Suksma.

Sampai sini, hal positif mana bisa dipetik, saripatikan, sekaligus disiapkan basis pijakan kuatnya bagi beragam bentuk kokoh penyiasatan hadapi siklus kemungkinan yang sama, sekaligus bekal warisan petuah bagi generasi masa depan?

Secara reflektif, terkait perayaan #IWD2022 ini, isu mendesak apa yang ingin turut anda suarakan terkait perjuangan panjang kaum perempuan dan kaum ibu saat ini, terkait pemulihan ekonomi pascapandemi yang merangkak di satu sisi, dengan kebutuhan mendesak perwujudannya di sisi lain?

Dari sekian banyak problem pokok kaum perempuan dan kaum ibu di dunia termasuk Indonesia, problem pokok mana saja yang terkategori mendesak, cukup mendesak, amat mendesak, mendesak "detik ini juga" yang patut, layak, wajib dijadikan prioritas pemecahan masalahnya secara utuh, tanpa cacat, sedikitpun?

Kita karib bukan, dengan serbaneka agenda perjuangan sistemik gerakan perempuan dunia gugat malapraktik ketidaksetaraan gender, kebijakan pemerintah tertentu yang diklaim tidak bahkan anti sensitif gender atau salah kaprah menerjemahkan praktik baik kebijakan publik sensitif gender bahkan responsif gender, isu seksisme, seksploitasi perempuan ala sistem kapitalis neoliberal, penindasan patriarki, hingga ketimpangan sosial ekonomi akut atas perempuan dan kaum ibu, dan lainnya?

Terhubung Senin (7/3/2022) malam melalui kanal aplikasi perpesanan singkat, salah satu perempuan dunia, warga Lampung, Indonesia, Vidya La Versi Cita Rastra, ikut bela rasa gaungkan aspirasinyi.

Dara elok warga Rajabasa, Bandarlampung ini khusus menyoroti kesetaraan gender yang menurutnyi penting, namun dalam praktiknya masih harus kerap berhadapan secara antagonistik dengan: diskriminasi!

"Kesetaraan gender itu penting menurut aku, tapi sampai saat ini diskriminasi berdasarkan gender masih sangat sering terjadi di masyarakat om," sahutnyi, sekira pukul 22.43 WIB, Senin malam.

Sadar demikian, apa pasal penyebab? "Nah, hal tersebut juga menurut aku karena adanya budaya patriarki yang kuat dan merugikan kaum wanita. Contohnya, kayak seperti tidak bisa mengaktualisasikan diri kita, minim memperoleh kesempatan untuk berpendidikan tinggi, sulit dapatkan jabatan yang tinggi di dunia pekerjaan," beber ia.

Menurutnyi, kesetaraan gender sebenarnya dapat menciptakan sikap saling menghargai dan menghormati. "Sehingga, tidak ada lagi diskriminasi," ia mengintensi.

"Kesetaraan gender juga kan dapat mengurangi kemiskinan," lanjut mahasiswi semester VI Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung ini, karena kaum perempuan bisa mendapatkan hak yang sama dengan kaum laki-laki hingga dapat meningkatkan taraf hidupnya.

"Vidya juga mau sampein (sampaikan, red) ke para perempuan, apalagi masih muda. Kita harus punya bekal, atau membekali diri kita dengan ilmu. Ga (tidak) hanya ilmu, tapi kita juga perlu pola pikir dan sudut pandang yang baik," kali ini ia mewanti.

Jadi, sambung ia, ketika kita (perempuan) mengalami pernyataan (kekerasan verbal, red) atau tindakan kurang menyenangkan atau diskriminasi, "Kita sudah punya pertahanan untuk membentengi diri kita," tandas dara pekacamata ini.

Vidya La Versi Cita Rastra berpendapat, perempuan dan laki-laki berhak mendapat perlindungan dan kesempatan yang setara. "Stigma sosial yang terlalu mengkotak-kotakkan peran dalam gender yang perlu dibenahi," dedahnyi.

"Value seseorang itu tidak dilihat dari otot saja. Menjunjung kesetaraan gender, bukan berarti merasa lebih tinggi derajatnya atau tidak butuh orang lain," dedah penajamnyi.

Pada bagian lain, saat diajukan adanya fakta klaim yang menyebut ironi Indonesia kini darurat kekerasan seksual terhadap perempuan, sekonyong cakrawala Vidya condong menyoroti motif pelakunya.

"Menurut Vidya, pakaian itu ga (tidak) bisa dijadikan alasan seseorang melakukan tindakan (kekerasan) seksual. Tapi masalah moralitasnya udah ga (tidak) ada dan watak pelakunya memang kotor dan keji yang ga (tidak) bermoral," sahutnyi bernada geram.

Solusinya? "RUU PKS (Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual) diperkuat lagi si om, untuk bisa mastiin si korban ini mendapatkan dukungan yang dia butuhin untuk mengakses keadilan dan pemulihan," healing Vidya.

Di ujung, pengurus Bidang Kepemudaan Perkumpulan Pejuang Bravo Lima (PBL) Lampung ini berpesan. "Untuk perempuan, ketika kita mendapatkan kekerasan seksual, jangan takut, jangan sungkan untuk lapor. Karena kita punya hak untuk melaporkan perbuatan mereka, dan kita juga punya hak mendapatkan perlindungan dan dukungan," kunci Vidya.

Terpisah, dikutip tak lama usai diunggah pada Selasa pagi, Kepala Negara, Presiden Jokowi melalui media sosialnya, menuliskan kalimat penyaksi. "Di saat dunia dilanda ketidakpastian dan manusia dihentak bencana, pandemi, bahkan perang, kita menyaksikan perempuan-perempuan yang menjadi penyelamat dan penuh daya."

"Mereka berjuang dan berprestasi di berbagai palagan, dari bidang ekonomi, kesehatan, sosial, sampai politik," tulisnya.

Upaya pemerintah, terilustrasi melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA) yang antara lain terus merealisasikan program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA), bagian percepatan perwujudan Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs/TPB) Desa yang inklusif, mandiri dan kuat dengan mengintegrasi perspektif gender dan hak anak dalam tata kelola penyelenggaraan, pembangunan, pembinaan, pemberdayaan masyarakat desa secara menyeluruh dan berkelanjutan. Integrasi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dalam pembangunan dan wujudkan SDGs Desa, sama penting dengan inisiasi rakyat desa memfasilitasi dan mewujudkan kepedulian terhadap pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, di sisi lain.

Beda sudut, setemali, Menteri PPPA Bintang Puspayoga mendukung inisiasi penyusunan regulasi setingkat Keputusan Menteri soal pencegahan dan perlindungan perempuan dari kekerasan seksual di tempat kerja, oleh sejawatnyi, Menaker Ida Fauziah. Rencana, ditetapkan menanti disahkannya RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

Sebagai ilustrasi, merujuk data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), ada 877 kasus kekerasan di tempat kerja dengan 921 korban perempuan dewasa di Indonesia pada 2017-2021 (data berdasar tahun input, data ditarik 17 Januari 2022).

Harap Bintang, Kepmenaker itu kelak diacu pemangku kepentingan, ujudkan salah satu arahan Presiden Jokowi sebagai prioritas Pembangunan Pemberdayaan Perempuan-Perlindungan Anak 2020-2024: penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Informasi, Kepmen ini bakal perkuat beleid sebelum, seperti SE Menakertrans 03/2011 tentang Pedoman Pencegahan Pelecehan Seksual di Tempat Kerja, Permen PPPA 5/2015 tentang Penyediaan Sarana Kerja yang Responsif Gender dan Peduli Anak di Tempat Kerja, dan Permen PPPA 1/2020 tentang Penyediaan Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan (RP3) di Tempat Kerja.

Menutup ini, tercuplik quotes Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), dalam novel Minke. "Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu. Semua puji-pujian untukMu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan."

Perempuan penyala, Selamat Hari Perempuan Sedunia! [red/Muzzamil]