Lapor Buk Risma, BPNT Tunai Lampung Utara di Paketan Oleh Oknum

LAMPUNG UTARA

Lampung Utara, (LV) - Kebijakan Pemerintah Pusat Terkait Penyaluran Bantuan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Pangan Kementerian Sosial mengalami Perubahan menjadi Tunai.

Hal itu dilakukan sebagai satu wujud memberikan kepuasan dan kepercayaan kepada KPM agar bisa bebas menentukan jenis barang yang dibeli sesuai dengan kebutuhan. Kemensos dengan Bantuan Pangan yang menjadi Tunai menggandeng PT Pos Indonesia sebagai penyaluran dana yang akan diterima.

“Proses penyaluran secara tunai untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM) BPNT/Kartu Sembako terus dimatangkan. Nantinya mereka dapat menerima bantuan untuk tiga bulan dalam sekali pencairan. KPM bisa mencairkan bantuan sekaligus untuk tiga bulan," Mengutip kata Mensos Risma di Jakarta, Minggu (20/2/2022).

Namun dengan kebijakan yang dikeluarkan itu, melalui hasil penelusuran pewarta lampungvisual.com, beberapa Desa di Lampung Utara masih melakukan pemaketan terhadap BPNT.

Hasil sebelumnya yang telah terbit di lampungvisual.com, dari hasil penelusuran Desa Trimodadi Kecamatan Abung Selatan berdasarkan pantau di lapangan melakukan pemaketan BPNT kepada KPM.

“Duitnya diambil kerumah, dikasih kwitansi (nota salin) belanja, barangnya disuruh ambil di gudang sini sama pak lurah (kades). Beras 3 zak, telur 3 karpet, jeruk 3 kg, kacang hijau 1,5 kg, kentang 3 kg, itu aja yang kita dapat dengan duit itu,” keluh narasumber KPM yang sedang antri mengambil paket yang disiapkan, Sabtu, (26/2/2022) siang kepada awak media.

Kali ini kejadian serupa terulang kembali di Kecamatan Sungkai Utara, tepatnya di Desa Negeri Sakti. KPM terkesan dipaksa untuk berbelanja di kediaman mantan Tenaga Kerja Sukarela Kecamatan (TKSK) inisial IN yang telah menyiapkan paket sembako.

Melalui salah satu ketua kelompok PKH inisial D yang diduga ditugaskan oleh oknum mantan TKSK inisial IN untuk mengkoordinir para KPM membeli 2 paket sembako yang terdiri dari beras 2 zak, telur 2 karpet, kacang tanah 0,5 kg, kentang 2 kg, serta jeruk 2 kg, yang nilai keseluruhannya dibandrol dengan harga Rp400 ribu rupiah.

"Kami diarahkan oleh ketua kelompok PKH mbak D untuk belanja dirumah IN, kata dia harus belanja disitu, gak boleh ditempat lain, info dari KPM yang sudah duluan ngambil kesana kalau tidak belanja disitu, katanya nanti enggak bakal dapat bantuan lagi kedepannya. Karena takut, terpaksa kami beli disana, eh gak taunya cuma dapat barang (sembako) segitu aja, mana harganya jauh lebih mahal dari harga pasaran. Dari duit Rp600 ribu, disuruh bayar Rp400 ribu untuk paket sembakonya," keluh beberapa KPM, kepada awak media, Selasa, (01/03/2022) siang.

Lebih mirisnya lagi, salah satu KPM yang telah berusia lanjut disana terpaksa harus kembali mengambil hutang kepada tetangga untuk memenuhi permintaan Oknum nakal tersebut. Uang yang diterima dari kantor pos setempat, sebagian besar sudah dibayarkan hutang sembako diwarung, dan sebagiannya lagi digunakan untuk berobat. Sisa uang Rp200 ribu direncanakan untuk membeli stok sembako guna menyambung hidup.

"Ibu sudah ditinggal suami, untuk bertahan hidup, ibu pontang-panting mencari duit, kadang harus hutang dulu diwarung untuk makan, Kebetulan ibu ada hutang di warung, sebagian ibu pakai bayar hutang sembako, sebagian untuk berobat, sisanya Rp200 ribu rencananya untuk tebus sembako di tempat IN, kata si D harus 2 paket, mau nggak mau, terpaksa hutang duit tetangga. Karena kalau tidak nurut, takut diputus bantuannya," ujar KPM dengan lirih.

Menurut KPM disana, jika perlakuan (paketan) saat ini diterapkan seperti itu, maka sama saja seperti sebelumnya, tidak ada perbedaan dengan tahun sebelumnya. Apa yang menjadi kebijakan kementerian sosial yang membebaskan KPM untuk membeli sembako dimana saja, seakan tak berlaku bagi mereka.

Terpisah, oknum mantan TKSK Irza Nurmawan, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon selulernya, Selasa, (01/03/2022) membantah semua tudingan KPM yang mengarah padanya. Menurutnya Ia hanya menawarkan kepada KPM yang ada di desanya untuk membeli paket sembako di warungnya.

"Saya tidak memaksa mereka, kalau menawarkan untuk belanja ke rumah iya, tapi tidak dipaksakan. Saya juga tawarkan ke KPM desa terdekat yang mau beli paket sembako komplit sesuai ketentuan," kilah Irza Nurmawan.

Dari keterangannya, paket sembako tersebut didapatkannya melalui rekanan supplier yang menawarkan untuk menjual paketan sembako ke KPM di wilayahnya. Namun saat ditanyakan identitas supplier, dirinya enggan untuk menjawab.

"Saya ditawari supplier untuk jual paket sembako ke KPM , dan saya tidak jual ketengan, langsung paketan. Sepaket harganya Rp200 ribu rupiah, terus terang saya ini jualin barang orang, saya mengambil ujung (untung). Saya juga enggak maksa harus ambil 2 paket sekaligus, ada juga yang ambil cuma sepaket saja, dari 75 KPM yang dapat di desa Negeri Sakti, cuma 69 KPM yang belanja di rumah," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Negeri Sakti, Tjik Ani, hingga berita ini ditayangkan, belum dapat dimintai keterangan terkait permasalahan yang tengah menimpa warganya.

Pewarta: (Andrian Folta)