Saban (50) Warga Lamteng Tujuh Tahun Tinggal di Kandang Kambing

LAMPUNG TENGAHNASIONAL

Lampung tengah, Lampungvisual.com-Saban (50) bersama keluarganya, selama tujuh tahun tinggal di kandang kambing,  gubuk Reyot berukuran 3 x 6 meter berlantaikan tanah, dingding geribik terbuat dari kulit bambu yang berdiri di atas tanah milik almarhum Ibrahim orangtua  angkatnya seorang pensiunan TNI, Warga Terbanggi Besar, Kecamatan Terbanggi Besar Lampung Tengah, Kamis (23/03/17).

Tadakpunya pilihan saban di temani istri setianya Triwiharti 40 tahun beserta 3 buah hati nya harus tinggal bersama kambing, di atas tanah milik almarhum Ibrahim bapak angkatnya seorang pensiunan TNI. Yang berabik hati.”Saya sudah tinggal di tempat yang tidak layak ini selama tujuh tahun, Sebelumnya nggak kayak gini. Dulunya gubuk ini ukuran 3 x 6 meter. Ini kayak gini karena puting beliung lima bulan yang lalu. Sekarang saya tidak punya biaya untuk mendirikannya kembali,” ujarnya.

Baca Juga:  CERITA BABINSA DAN KOPI KHAS SUMBERMALANG

Berasal dari Desa Panjor, Kecamatan Tegineneng, Pesawaran, saban  tidak memiliki sanak famili di lampung tengah tempat nya mengadu dan berkeluh kesah, adapun seorang adik tinggal jauh darinya. “Ada satu adik saya di Tegineneng, tapi sama  susahnya, Jadi nggak bisa bantu,” ungkapnya.

Dalam kesusahannya , masih ada yang berbaik hati membantu saban membantu penerangan bila malam dari sebuah loket di kampung setempat.”Alhamdulillah mas masih ada orang yang berhati mulia, dari loket bus sebelah sekadar untuk penerangan,” tuturnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya Saban, bekerja di tambal bersama kedua teman dengan alat sealakadarnya walau kompresornya nya pun adalah milik orang lain yang di pinjam.” Kompresornya dipinjami warga yang berbaik hati. Penghasilannya dalam sehari tak menentu. Kadang Rp20 ribu-Rp30 ribu. Selain itu, pemberian orang lain ketika disuruh belanja atau lain-lain. Kalau lagi nggak ada kerjaan, ya ngeramban untuk makan kambing,” ucapnya.

Baca Juga:  Perlu Tenaga Exstra Kuat Untuk Menghacurkan Batu Jalan Makadam 

Kambing 8 ini adalah milik pak wardan warga kampung terbanggi besar yang meminta Saban untuk di pelihara dengan upah setiap bulan beras sebanyak 10-15 kg. Sudah sering Saban,  meminta bantuan kepada kepala kampung mengajukan bantuan tapi malang belum rejeki Saban. “Sudah bilang sama kepala kampung. Diminta bersabar menunggu anggaran turun,” ungkapnya.

Belahan jiwa Saban, Triwaharti mengaku hanya pasrah terhadap kondisi keluarganya. “Pasrah saja, Mas. Ini sudah bagian hidup. Mau bagaimana lagi? Meskipun, saya kasihan melihat anak-anak,” tutur warga asal Kecamatan Banjit, Waykanan, ini.

Baca Juga:  PLTGU Riau Beroperasi, PLN: Kolaborasi Percepat Transisi Energi Bersih di RI

Meski demikian, kata Triwaharti, anak-anaknya masih sekolah. “Anak-anak masih sekolah. Anak pertama, Supriyanto (14), duduk di kelas 3 SDN. Kemudian anak kedua Saputra (11) duduk di kelas 2 SDN. Sekolahnya gratis nggak bayar. Kalau yang bungsu Analisa (2) masih menyusui,”tuntas Triwiharti.(Iswan).

 629 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.