Tiga Juri Nasional FFL 2022, Bagikan Ilmu Perfilman di Kampus The Best Darmajaya

Tiga Juri Nasional FFL 2022, Bagikan Ilmu Perfilman di Kampus The Best Darmajaya
PENDIDIKAN

Tiga Juri Nasional FFL 2022, Bagikan Ilmu Perfilman di Kampus The Best Darmajaya BANDARLAMPUNG, (LV) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Darmajaya Computer & Film Club (DCFC), penyelenggara Festival Film Lampung (FFL) 2022 menggelar Coaching Clinic di Aula Rektorat Lantai III, Gedung Alfian Husin, Jumat (1/7/22).

Coaching clinic diisi tiga juri nasional yaitu, Roufy Nasution (sutradara), Yudi Datau (sinematografer), dan Wawan I Wibowo (Editor). Coaching diikuti 80 pecinta film di Lampung.

Materi pertama disampaikan, Roufy Nasution mengenai tahapan dalam pembuatan film. Pertama, pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. “Pra-produksi dimulai dari mencari ide, skenario dan lain sebagainya. Intinya lebih kayak persiapan,” ungkapnya.

Menurut dia, untuk film pendek itu tahap pra-produksi biasanya dilakukan sampai sebulan. “Tahap pra-produksi juga terdapat tim development yang tugasnya mencari ide. Sutradara juga tidak bekerja sendiri, tetapi juga berkomunikasi dengan sinematografer dan editor dalam menghasilkan sebuah film,” tuturnya.

Terpisah dalam layar virtual, Wawan I Wibowo menjelaskan proses editing sebagai storytelling. “Pekerjaan editor itu absurd. Tugas pertama dari seorang editor mengalirkan skenario. Skenario itu saya anggap ibunya. Sutradara itu saya anggap bapaknya kita,” kata Wawan.

Menurut dia, dalam menjalankan tugas juga editor banyak berkomunikasi dengan sutradara. “Kadang-kadang saat produksi itu ada diskusi. Kita lebih cenderung ke arah skenario dulu,” tuturnya.

Dia juga menjelaskan, jika mengalirkan skenario tidak berhasil (kurang baik) dalam berstruktur ceritanya. Editor berhak untuk menulis ulang karena ketika di meja editing sering kali tidak sesuai. “Editing adalah jembatan kreator film ke penontonnya,” imbuhnya.

Sementara, Yudi Datau menjelaskan Representasi Visual dalam sinematografi adalah untuk menampilkan realitas berupa citra. “Yang paling tahu film adalah sutradara. Tapi balik lagi ke khitoh manusia karena sutradara itu juga memiliki kekurangan maka dia butuh orang lain yang ahli untuk mengerjakannya seperti sinematografer dan editor,” ungkapnya.

Yudi–biasa dia disapa–juga menerangkan untuk membuat karakter agar tidak memasukkan unsur subjektif dari pembuat, tetapi berdasarkan realita kehidupan. “Jangan sampai tokoh A lahir tahun sekian akan disamakan dengan lahir tahun saat ini di zaman pandemi. Secara psikologis akan berbeda,” tandasnya.

Untuk diketahui, Coaching Clinic merupakan rangkaian dari FFL 2022 yang sebelumnya juga telah menggelar screening pada 13–17 Juni 2022, di Aula Lantai III Gedung Alfian Husin. Kemudian, Malam Anugerah digelar 2 Juli 2022 di Taman Budaya Lampung dengan mengumumkan 14 kategori. (**)

Youtube:Lampungvisual.com