Warga Keluhkan Meteran MIOTA, Puluhan Ribu kWh Lama Tidak Jelas Keberadaannya

Warga Keluhkan Meteran MIOTA, Puluhan Ribu kWh Lama Tidak Jelas Keberadaannya
Khoizul Fikri Assisten Manager Niaga PT.MEP
MUSI BANYUASIN (MUBA)

Muba, (LV) –

Direktur PT. Muba Electric Power Augie Bunyamin tidak dapat memberikan jawaban ketika di konfirmasi dimana keberadaan kWh Pasca Bayar pelanggan PT.MEP yang sudah di ganti dengan kWh Pra Bayar merek MIOTA. Padahal kWh/meteran tersebut merupakan Asset Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin.

Dari keterangan Assisten Manager Niaga PT. MEP pergantian meteran sudah mencapai sekitar 47.726 pelanggan. yaitu 98% dari seluruh pelanggan PT.MEP yang berjumlah 48.700 pelanggan. Namun kWh/meteran yang terkumpul dan di titipkan di Gudang PJU Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kab.Muba hanya sekitar 725 karung yang masing-masing karung berisi 25 kWh/meteran.

” Kwh meter sisanya masih ada di 1. gudang pt. Mep belum dibuatkan daftar 2. kapel lalan yg belum sempat diangkut ke sekayu juga masih dipelanggan 3. Pelanggan di kecamatan Bayung lencir, plakat tinggi, lalan yang masih diupayakan untuk dipungut langsung dari pelanggan. Masalah yang dihadapi pelanggan tidak mau mengembalikan kwh krn merasa kwh itu dibeli. Pada saatnya nanti klau kwh sudah terkumpul dan sudah terdata semua serta telah mendapat persetujuan dari Pemda yang harus melalui kajian, semua media massa harus kami undang yang akan disaksikan oleh aparat hukum terkait supaya transparansi,” jawab Khoizul Fikri Assisten Manager Niaga PT.MEP

Baca Juga:  Siapkan SDM Islami dan Unggul, Muba Tambah Pendirian Ponpes

Lebih lanjut Khoizul menambahkan,” Juga masih ada di desa Kecamatan Babat Toman. Kwh yg harus kami kumpulkan dari kapel maupun pelanggan +/- 26.000,” jelasnya.

Saat awak media menghubungi Plt Satuan Pengawas Internal (SPI) PT.MEP Jhan Krippen ST, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang Forum Bangso Batak Indonesia (DPC FBBI) Musi Banyuasin. Plt SPI PT.MEP tidak memberikan jawaban baik mengenai keberadaan puluhan ribu kWh/meteran lama pelanggan, maupun mengenai keuntungan dan manfaat migrasi kWh/meteran pelanggan dari Pasca Bayar ke Pra Bayar.

Dari hasil pantawan di Dusun IV dan V Desa Keramat Jaya, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin beberapa waktu yang lalu. Pelanggan PT.MEP mengeluhkan meteran yang baru merek MIOTA yang menurut mereka terus hidup dan berjalan saat lampu mati.

Baca Juga:  Wabup Muba Tekankan Kesiapsiagaan Hadapi Karhutlah dan Bencana Alam Tahun 2021

” Saya sangat kecewa dan merasa di rugikan dengan meteran yang baru ini. Tempo hari listrik di rumah saya mati karena habis pulsanya. Karena belum ada uang untuk mengisinya makanya saya biarkan dulu mati lampu sampai 3 hari. Setelah saya dapat uang baru saya isi sampai 700 ribu baru lampu di rumah saya hidup dan meteran saya terisi itu pun tidak sampai 44 kWh,” ujar JK warga dusun V Desa Keramat Jaya.

Lain halnya dengan R Dusun Jebang Desa Keramat Jaya mengatakan,” bapak semalam sudah membuktikannya sendiri kan. Saat kita cek sama-sama pukul 17:30 WIB token saya berisi 23 kWh, pada jam 19:40 WIB listrik mati dan baru hidup besoknya jam 08:15 WIB. Kita cek lagi token saya melalui HP ternyata tinggal 14 kWh. Lampu mati saja pulsa token saya masih berkurang. Beda dengan meteran PLN yang jumlah kWhnya jelas terlihat serta kita bisa lihat lansung tidak mengecek melalui Hp android,” ketusnya.

Baca Juga:  Dirut PT MEP Sosialisasikan Migrasi KWH ke Prabayar di Kecamatan Plakat Tinggi

Beberapa persoalan mulai dari jaringan listrik, listrik sering mati, meteran yang tidak jelas standarnya, puluhan ribu meteran lama yang merupakan asset Pemkab Muba tidak tahu kejelasan dan keberadaannya, bahkan PT.MEP berencana pindah kantor, padahal kantornya saat ini adalah berada di gedung Petro Muba yang merupakan perusahaan milik daerah sekaligus induk perusahaan PT.MEP. (Muhammad Ruswan)

 

Berita Terkait: https://www.lampungvisual.com/dirut-pt-mep-bungkam-terkait-kwh-meteran-listrik-pasca-bayar/

 1,061 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tagged