“Sekelik Selawase”

"Sekelik Selawase"
Temu Kangen Purnakaryawan Manager Staf dan Keluarga PT Gunung Madu Plantations (GMP), di Taman Santap Rumah Kayu, Jl Arief Rahman Hakim 45, Jagabaya III, Way Halim, Bandarlampung, pada Minggu (20/11/2022). | dok Hapris Jawodo/Muzzamil
PROFIL & SOSOK

BANDARLAMPUNG, (LV)

Bak jadi pembuktian, kompak sejak sesama berjuang, berkarya, mengabdi selama jadi bagian jibaku dari korporasi industri perkebunan tebu dan manufaktur produksi distribusi gula putih dan tetes tebu PT Gunung Madu Plantations (GMP), Lampung Tengah.

Pensiunan karyawan perusahaan pionir industri gula di Lampung dirian tahun 1975 ini kompak pula menghadiri Temu Kangen Purnakaryawan Manager Staf dan Keluarga PT Gunung Madu Plantations, kerja keras 13 panitia, sukses terlaksana di Taman Santap Rumah Kayu, Jl Arief Rahman Hakim Nomor 45, Jagabaya III, Kecamatan Way Halim, Bandarlampung, Minggu (20/11/2022).

Pengingat belaka, tiga tahun beroperasi, PT GMP lakukan giling produksi perdana 1978. Meningkat tiap tahunnya. Tak bisa dihindari, GMP terpaksa lalui babak panjang trial and error. Seiring waktu, penguasaan teknologi pembudidayaan tebu, teknologi produksi gula makin baik, GMP diakui sebagai pionir luar Jawa: berhasil buktikan industri gula efisien dari perkebunan tebu di luar Jawa.

Sadar pentingnya inovasi, terkait penerapan teknologi terkini demi tercipta sinambung dinamika usaha didukung SDM mumpuni, GMP berupaya ciptakan budaya pertanian ramah lingkungan, berkelanjutan, lewat sinergi pengelolaan lahan dan produksi.

GMP berinovasi kembangkan varian bibit bernilai tambah. Inovasi benih ini ciptakan varietas unggul, terbukti berhasil tingkatkan produktifitas kebun. Inovasi manajemen dan teknologi capaian GMP, dimanfaatkan pemerintah untuk pengembangan industri gula nasional. Ini buktikan efisiensi proses produksi dan peningkatan produktivitas, menjadi salah satu kunci sukses GMP di bisnis pergulaan nasional dan global.

Guna hasilkan, pertahankan produktivitas tanaman tebu, GMP menerapkan teknologi terkini di pabrik dan perkebunan, termasuk penggunaan luas alsintan, otomasi stasiun pabrik, serta proses sulfitasi ganda untuk menghasilkan Gula Kristal GMP. Teknologi mekanisasi pertanian guna peningkatan produktivitas tanaman tebu, GMP tempuh di antaranya penggunaan traktor autopilot.

Mengilustrasikan laporan pandangan mata, Hapris Jawodo, peserta temu kangen ini bilang, mereka (pun dia), “Berkumpul, berdoa, bertukar kabar, bercanda, berdialog, dan berdendang, untuk mempererat persaudaraan pensiunan PT Gunung Madu Plantations.”

Mantan wartawan Lampung Post, gabung sebagai hingga kini resmi status pensiunan Manajer Humas PT GMP ini memuji inisiatif pemrakarsa.

“Salut untuk para sesepuh pergulaan di Lampung ini yang mensponsori agar bisa berkumpul dengan rekan se-generasi dan para pensiunan juniornya. Antara pak M Fauzi Thoha, pak Kun Suwarman, pak Zabbar Siregar, (mantan Kadiv Service, Business, Finance GMP) pak Gunamarwan, pak Sofwan Hadi, pak Sutarto, pak Alex Kesaulya, dan pak Yuli Astono. Pokoknya ‘Sekelik Selawase’ (saudara selamanya),” ujar Hapris berikut merinci nama dimaksud.

Penelusuran, dari unggahan media sosial Hapris Jawodo, diakses pada Senin dini hari (21/11/2022), tampak antara lain susana saat para ‘veteran kebun tebu’ ini larut gembira joget bersama.

Juga, saat mantan Plantantion Manager PT GMP kurun 1976-1993, Muhammad Fauzi Toha, yang juga ayah dari Muhammad Ridho Ficardo, Gubernur Lampung 2014-2019, tengah asyik bicara pada sesi talkshow.

Diketahui, Fauzi Toha inilah sejatinya figur utama dibalik laik status Lampung sentra industri gula raksasa di kemudian hari. Pria asal Tulung Agung Jawa Timur, kelahiran 11 April 1950, yang baru saja lulus 1976 usai enam tahun kuliah di IPB ini, begitu dia menerima tantangan dari bosnya di Jakarta yang menugasinya ke belantara Lampung, buka lahan perkebunan baru.

Baca Juga:  Dibalik Keberhasilan Melawan Positif Covid-19, Kussarwono Mengurai Cerita

Ingat Fauzi Toha, tetiba ingat buku karya monumental mantan wartawan Lampung Post, Wakil Bupati Tulangbawang 2012-2017, kini istrinya yang notabene doktor ekonomi pertama jebolan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila, Dr Zaidirina, jadi Pj Bupati Tulang Bawang Barat, Heri Wardoyo.

Dalam tajuk artikel “M. Fauzi Toha (1950-…): Keteladanan dari Kebun Gula”, dalam buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 229-232 terbitan 2008, Heri Wardoyo dkk mengisahkan antara lain jerih jalan terjal Fauzi Toha muda, insinyur teknologi pertanian, “baru lulus kuliah, melamar kerja, dan langsung diterjunkan ke rimba di pedalaman Lampung,” kisah Heri.

Dibatasi cuma hanya selama join di GMP, “Semua bermula 1976, Tulangbawang masih hutan. Pabrik gula PT Gunung Madu Plantation menugaskan Fauzi Toha ke daerah yang teramat baru baginya itu. Ijazah Institut Pertanian Bogor yang dipegangnya masih hangat,” mula kisah.

Fauzi muda baru lulus kuliah, melamar kerja, dan langsung diterjunkan ke rimba di pedalaman Lampung. Tapi itu bukan persoalan. Sejak kecil, etos kerja keras, kesantunan, dan nilai-nilai keagamaan menjadi tongkatnya mengarungi hidup.

Lulusan SDN 3 Tulungagung 1962, SMPN 1 Tulungagung 1965, SMAN 1 Tulungagung 1968 ini, sejak sekolah menengah, terbiasa kerja serabutan dan menguasai banyak “ilmu hidup”, termasuk belasan jam sehari membatik, lalu memasarkannya.

Belasan tahun pula ia jalani tiga rutinitas: sekolah, bertani, malamnya ngaji, sambil belajar cari nafkah. Maka, penugasan ke pedalaman Lampung saat itu diterimanya dengan keyakinan tinggi. “Didikan orang tua sangat mewarnai perjalanan hidup saya,” kata Fauzi, putra dari pasangan HM Thoha Sofwan sang ayah dan Chrisny ibundanya.

Kesarjanaannya di bidang teknologi pertanian kisah Heri, untuk sementara masuk saku dahulu. Pabrik belum apa-apa. Yang ada baru land clearing. Jalan raya Terbanggibesar masih berupa jalan kasar peninggalan Belanda. Suasana sepi menggigit. Suara hewan liar menjadi keseharian.

Mulailah Fauzi bergaul dengan para buruh dan pekerja yang lebih dahulu hadir. Modalnya cuma satu: Dia senantiasa berkromo-inggil dengan para buruh dan pekerja kasar. Secara kultural, bahasa Jawa halus yang dia pakai justru membuat lawan bicaranya kian merunduk; hati pun terbeli.

Maka, langkah berikut menjadi mudah. “Tidak ada yang lebih rumit ketimbang mengelola sumber daya manusia,” kata dia, ingatkan kita betapa rupiah tiada harganya bicara urusan penaklukan sosial. Sebatang rokok, adalah pagar sosial, ujar legendaris, sosiolog mendiang Selo Soemardjan.

Kerja berikut tinggal masalah-masalah teknik, kendati tingkat kesulitan di lapangan berbeda-beda. Meskipun demikian, ada yang buat bisnis perkebunan jadi penuh komplikasi gawat: Pembebasan lahan.

Resistensi di masyarakat menyeruak. Di banyak aspek, hadirnya pihak ketiga yang menunggangi buat tensi masalah makin tinggi. “Saya senang menerima pekerjaan yang orang lain enggan menerimanya, seperti pembebasan lahan,” kata pemilik moto hidup: bekerja itu ibadah, berhenti adalah mati, mensyukuri nikmat Allah, ini.

“Job penuh risiko, tanpa bonus, tanpa pertanggungan apa pun, dilaksanakannya dengan penuh tanggung jawab,” tulis Heri.

Tak pelak karirnya menaik. Dalam dua tahun banyak seniornya “berubah posisi” jadi anak buahnya. Perusahaan dengan manajemen yang menghargai prestasi (merrit system) ini, GMP, menjadikan performa karyawan sebagai ukuran dasar.

“Akuntabilitas yang diberikan dari sistem penilaian yang dibangun sudah jelas; pekerjaan pun terasa ringan. Maka, hampir tiap tahun Fauzi mendapat promosi,” catat Heri.

Baca Juga:  Putri Pertama Bang Ojos Segera Menikah

“Awalnya saya tidak berharap lama-lama bekerja di perusahaan tersebut, kendati kerja sungguh-sungguh dan tak mengenal waktu memang sudah menjadi kebiasaan. Namun, ragam persoalan yang saya selesaikan membuat saya tetap diperlukan perusahaan,” kata Fauzi lanjutkan kisah.

Dalam catatan Heri Wardoyo dkk, cukup 3 tahun 6 bulan status manajer sudah dia (Fauzi) sandang dan menjadi manajer departemen pada tahun 1982. Atau, saat suami Agustina Fauzi ini telah pula sandang status ayah dari putra sulungnya kelahiran 1980, M Ridho Ficardo, menyusul kedua adiknya Silvy Noviana dan Gita Farina.

Saat itu, GMP perusahaan tempatnya bekerja itu dimiliki konglomerat gula asal Malaysia, Robert Kwok (45%) dan keluarga Presiden (waktu itu) Soeharto. Dalam perjalanan, Kwok menjual saham ke Anthony Salim. Sayang, perusahaan merugi setelah dipegang Anthony. Tahun 1992, taipan Liem Sioe Liong, orang tua Anthony, bertemu Kwok dan meminta perusahaan diselamatkan. Tapi, prosesnya tidak mulus. Keluarga Cendana keberatan.

“Namun, jika dua taipan China bertemu dan bersalaman, itulah hukum tertinggi dalam berbisnis dengan para konglomerat,” kata Fauzi Toha. Maka, bisnis dan merger tetap dilanjutkan tanpa nota kesepahaman, atau segala bentuk perjanjian tertulis lainnya.

Rencana merger ini memang terlalu cepat. Sebagai orang yang diamanatkan, Fauzi bergerak cepat. Perluasan kebun dikebut. “Target 6.000 per hektare per tahun, saya gandakan jadi 12 ribu hektare/setahun atau seribu hektare saban bulan,” kata Fauzi. Dia bekerja siang malam, menghadapi ribuan masyarakat dalam proses pembebasan.

“Ini pekerjaan yang dengan tingkat kesukaran tertinggi dan berisiko luar biasa,” kesan catatan Heri.

Di satu sisi, ada kelompok yang menguasai dengan cara menjarah lahan, di sisi lain ada pula karyawan yang terlibat penjarahan itu.

Ketegasan Fauzi, pehobi tenis dan jojing ini, diuji: Pemecatan dilakukan bergelombang guna timbulkan efek jera. Tak ada ampun. Pemecatan juga dilakukan bagi karyawan yang terlibat pencurian dan perzinahan.

“Apa jadinya kita, dengan tempat seperti ini, jika ada yang menoleransi perbuatan-perbuatan tercela seperti itu. Ini bukan kebun binatang,” kata dia, masuk akal.

Malah imbuh dia, saat itu ada 15 ribu hektar dikuasai penjarah. “Pimpinan sering ragu ambil keputusan. Penjarahan merajalela. Aparat seperti tak mampu berbuat apa-apa. Perkebunan sudah seperti negara dalam negara. Dan kejadian seperti bukan 1-2 kali terjadi,” cecar nadanya.

“Kunci saya cuma salat dan bersandar pada Allah. Tiap malam saya tahajud,” kata Fauzi. Dalam 18 bulan, persoalan tanah pun bisa diselesaikan. Dalam setahun, perusahaan yang didera kerugian itu pun terselamatkan.

Heri Wardoyo tepat tanya: Resepnya, pak? Fauzi memaksimalkan karyawan sendiri.

Fauzi meyakinkan bahwa perusahaan maju maka karyawan pun akan maju. Dengan persuasi selama ini, seluruh karyawan yang terserak dalam banyak divisi disatukan.

“Saya seperti menyatukan lidi-lidi. Dengan bersatu justru kita kuat. Saya, sebagai pimpinan, merasa seperti harimau yang melindungi anak-anaknya dengan beragam cara,” kata Fauzi yang di tahun wawancara tercatat juga merupakan staf pengajar di Pascasarjana IPB, dan LPPM Jakarta.

Untuk mengantisipasi aksi-aksi kekerasan yang kerap mengiringi pembebasan lahan, Perguruan Silat Merpati Putih didatangkan. Wow! Iya, seluruh karyawan berlatih. Dalam apel besar Fauzi peragakan kemampuannya mematahkan pipa-pipa besi dengan tangan kosong. “Sekadar untuk menumbuhkan semangat dan keyakinan anak-anak,” kata dia, ingatkan kata anak Medan: ngeri kali.

Baca Juga:  Suket Teki Bersama Gati

Kisah pewarta cukupkan sampai sini. Sebab terhitung sejak tahun 1994 hingga sekitar seperempat abad lebih lamanya kemudian, Fauzi Toha jatuh bangun (lebih banyak naik) step by step tapak karir profesionalnya di sejumlah perusahaan industri perkebunan tebu dan manufaktur produksi gula putih.

Yang kelak, tercatat tahun 2002, diakuisisi oleh korporat raksasa industri gula Tanah Air terbesar bahkan kini se-AsiaTenggara. Fauzi Toha ada didalamnya.

Dan, satu insight terkait, sayang dilewatkan, yakni kala almamaternya IPB, beri dia gelar doktor kehormatan atau Doctor of Honoris Causa (Dr HC), atas kontribusinya terhadap pengembangan industri gula nasional.

Dikutip dari Berita Satu, pemberian gelar dilakukan dalam sidang guru besar IPB di Kampus IPB Dramaga, Bogor, pada Sabtu 12 November 2016 silam. Fauzi menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul Perancangan Sistem Agro Industri Berbasis Tebu.

Sebelumnya, pihak IPB menjelaskan gelar tersebut diberikan kepada Fauzi Toha atas pengembangan ilmu keteknikan pertanian dan atas pengabdian diri Fauzi Toha selama 40 tahun mengembangkan industri gula.

Fauzi juga dinilai mampu mengembangkan industri gula di luar Jawa dengan baik. Dia berinovasi menciptakan kendaraan angkut tebu, lalu disebut road train (semacam truk gandeng) daya angkut 60 ton dan mampu distribusikan tebu dari area kebun ke pabrik pengolahan dengan cepat, efisien agar tak telat hingga kadar rendemen tetap bagus.

Doktor kehormatan bagi Fauzi merupakan yang ke-6 diberikan IPB dan ini gelar doktor untuk alumni IPB yang pertama. IPB dalam pemberian gelar itu melakukan proses dan penilaian cukup lama atas karya Fauzi yang saat itu jadi salah satu pimpinan Sugar Group Company. “Sekitar 5 tahun,” rilis IPB.

Perjalanan karir Fauzi dan pengembangan gula cukup terbilang dipenuhi sejumlah tantangan. Selain berinovasi, Fauzi Toha juga sebenarnya mengikuti betul segala perkembangan industri gula nasional, khususnya di Lampung.

Begitu banyaknya tantangan, kata Fauzi, makanya lebih banyak yang menggeluti bisnis pertambangan dan hutan. “Saya heran kenapa susah sekali berbisnis perkebunan di negara ini, banyak sekali gangguannya. Amat berbeda dengan bisnis pertambangan. Demikian pula dengan penguasaan hutan. Cukup dengan selembar HPH (hak pengusahaan hutan), pohon-pohon ditebangi lalu sering tinggalkan,” ujar dia di satu kesempatan.

Wah, pembaca. Selalu in charge ya kita, bicara dimana ada semut disitu ada gula, hehe.. Apatah lagi bila pakai embel-embel “yang terintegrasi, terbesar, dan terefisien di dunia”, haha.

Namun demikian, kendati sejarah seorang Fauzi Toha di dalam persinggungan dan persinggahan perjalanan kehidupan dia sebagai pelaku sejarah kepeloporan industri gula nasional di Bumi Lampung, tak terlepas pula dari kesejarahan dia mula 1976, tahun mula dia blusukan ke hutan belantara sini.

Yang entah suasana kebatinan, atau entah warisan keteladanan dia turut sejenak ikut hinggapi derai tawa peserta temu kangen Minggu bersejarah kemarin tadi.

Unggahan Hapris Jawodo, yang kebetulan notabene juga kakak dari Heri Wardoyo — penulis kumpulan kolomnya di HU Lampung Post 2000-2013, terbit berkata pengantar budayawan unik Emha Ainun Najib diwarnai pertunjukan khas Kiai Kanjeng saat rilis, buku “Acropolis, Kerajaan Nalar” ini, darinya artikel ini lahir. Pun Fauzi Toha, lainnya, dari mana di antaranya suritauladan mengalir. [red/Muzzamil]

 42 kali dilihat